Serang, Wismanews.com – Mahasiswa Universitas Serang Raya (UNSERA) terlibat dalam kegiatan penelitian internasional bertema Alternative Life Projects in Rural South and Southeast Asia: Reflecting on Post-Development through Diverse Emplaced Collectives (ANR AltLife-SSEA) yang dilaksanakan di wilayah Baduy, Kabupaten Lebak, serta sejumlah kasepuhan di Banten Kidul, Provinsi Banten. Program penelitian yang berlangsung selama tiga tahun, yakni 2026–2028, merupakan kolaborasi antara lembaga riset Prancis, yaitu École française d’Extrême-Orient (EFEO) dan Institute of Research on Contemporary Southeast Asia (IRASEC), dengan mitra lokal di Indonesia.
Penelitian ini berfokus pada kajian kehidupan masyarakat pedesaan di Asia Selatan dan Asia Tenggara, khususnya mengenai kemandirian masyarakat, ketahanan sosial-budaya, serta hubungan manusia dengan lingkungan di tengah arus modernisasi.
Person in Charge (PIC) Program ANR AltLife-SSEA dari UNSERA, Assoc. Prof. Dr. Liza Diniarizky P., S.I.P., M.Kesos., M.I.Kom., menjelaskan bahwa mahasiswa sengaja dilibatkan dalam penelitian tersebut agar memperoleh pengalaman langsung dalam kegiatan riset internasional.
“Program ini bernama ANR AltLife-SSEA, sebuah proyek riset dari pemerintah Prancis melalui EFEO dan IRASEC. Sebagai mitra lokal, UNSERA sengaja melibatkan mahasiswa agar mereka mendapatkan hands-on experience. Kami ingin memperkuat kompetensi akademik dan kapasitas riset mereka, sekaligus mengasah kemampuan komunikasi lintas budaya dengan para peneliti internasional sejak dini,” ujarnya pada (09/06).
Menurutnya, wilayah Baduy dan sejumlah kasepuhan di Banten Kidul dipilih karena memiliki karakter sosial dan budaya yang khas serta mampu mempertahankan nilai-nilai lokal di tengah perkembangan zaman.
“Riset ini direncanakan berjalan selama tiga tahun, dari 2026 hingga 2028. Kami memilih Baduy serta beberapa kasepuhan di Banten Kidul seperti Citorek dan Sobang karena karakteristik sosial-budayanya yang unik. Kami ingin melihat bagaimana masyarakat di rural area ini mampu hidup mandiri dan tangguh menjaga nilai lokalitas mereka di tengah arus modernisasi,” jelasnya.
Salah satu mahasiswa yang terlibat dalam penelitian tersebut, Sindia Andista, mahasiswa semester 8 Program Studi Ilmu Komunikasi UNSERA, mengaku sempat merasakan campuran perasaan bangga dan gugup saat pertama kali mendapatkan kesempatan mengikuti program internasional tersebut. Namun, pengalaman di lapangan membuatnya semakin antusias untuk belajar dan berinteraksi dengan berbagai pihak.
“Ada rasa bangga dan senang karena tidak semua mahasiswa mendapat kesempatan langka untuk berkolaborasi dengan lembaga riset internasional seperti EFEO dari Prancis. Namun, setelah kegiatan dimulai, rasa cemas itu berubah menjadi antusiasme yang besar untuk belajar banyak hal baru,” ujarnya.
Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa berperan dalam observasi, dokumentasi, pencatatan data, hingga membantu komunikasi antara peneliti asing dan masyarakat adat setempat. Menurut Sindia, perbedaan bahasa menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi selama proses penelitian.
“Peneliti asing menggunakan bahasa Inggris atau Prancis, sedangkan masyarakat lokal berkomunikasi dengan bahasa Sunda khas daerah setempat. Di sinilah peran kami sebagai mahasiswa UNSERA menjadi sangat krusial, yaitu bertindak sebagai jembatan komunikasi dengan menerjemahkan maksud dari kedua belah pihak agar proses wawancara tetap berjalan lancar,” katanya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman dalam metodologi riset lapangan, tetapi juga belajar membangun empati budaya dan bekerja dalam tim multinasional. Program ANR AltLife-SSEA diharapkan dapat memperkuat kapasitas akademik mahasiswa UNSERA sekaligus memperluas wawasan mereka dalam lingkungan riset internasional.
(Rizki/LPMWisma)
Reporter: Rizki
Editor: Intan
