Momentum HUT Banten ke-26: BEM Banten Bersatu Desak Evaluasi Total Pembangunan Daerah

Serang, Wismanews.com – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Serang Raya (UNSERA) yang tergabung dalam Aliansi BEM Banten Bersatu menggelar aksi unjuk rasa di depan pintu gerbang Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B) pada Minggu, 4 Oktober 2026. Aksi yang diikuti oleh BEM UNSERA dan Aliansi BEM Banten Bersatu ini memanfaatkan momentum 26 tahun berdirinya Provinsi Banten untuk mengevaluasi hasil pembangunan yang dinilai belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat secara merata.

Dalam aksi yang berlangsung di depan gerbang KP3B tersebut, mahasiswa menyuarakan orasi serta memaparkan 12 poin tuntutan utama terkait isu pendidikan, lingkungan, hingga kesejahteraan masyarakat. Beberapa di antaranya mencakup penolakan militerisme di ranah pendidikan, transparansi izin dan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) pembangunan kawasan industri PT Jaya Dinasty Indonesia (JDI) di Sawah Luhur, serta pencabutan Sertifikat Hak Pakai (SHP) No. 1 Tahun 2012 terkait pembangunan Batalyon TP Rancapinang.

Selain itu, massa juga menuntut peningkatan serapan tenaga kerja lokal, pemerataan pembangunan infrastruktur, penanganan jalan rusak, penegakan aturan truk Over Dimension and Over Loading (ODOL), pengelolaan krisis lingkungan dan sampah, hingga keterlibatan masyarakat dan mahasiswa dalam pengambilan kebijakan publik.

Salah satu peserta aksi dari UNSERA, Erlan Priadi, menjelaskan bahwa penyampaian tuntutan ini didasari oleh situasi pembangunan Banten yang dinilai masih menyisakan banyak persoalan mendasar di tengah pesatnya investasi dan program-program pembangunan pemerintah.

“BEM UNSERA yang tergabung dalam aliansi BEM Banten Bersatu melihat bahwa di tengah pertumbuhan investasi, kawasan industri, pembangunan infrastruktur, dan berbagai program pemerintah, masih terdapat persoalan mendasar seperti pendidikan, kesejahteraan tenaga pendidik, kesempatan kerja masyarakat lokal, infrastruktur, transportasi, konflik ruang hidup, serta persoalan lingkungan.” Ujar Erlan pada (05/10).

Aksi yang berlangsung hingga sore hari tersebut sempat diwarnai dinamika di lapangan ketika massa meminta audiensi langsung dengan pihak Pemerintah Provinsi (PEMPROV) Banten. Namun, hingga batas waktu yang ditentukan, pihak yang dituju tidak hadir menemui massa.

Ketegangan sempat terjadi antara massa aksi dan aparat kepolisian di sekitar lokasi. Dalam peristiwa tersebut, Presiden Mahasiswa UNSERA, Asril Alyessa, mengalami luka pada bagian mulut. Menurut keterangan Erlan, luka tersebut terjadi setelah Asril mengalami kontak fisik dengan aparat saat situasi memanas di barisan depan.

Erlan juga turut menyampaikan kekecewaannya atas tidak adanya perwakilan pemerintah yang hadir menemui dan menerima massa aksi di lapangan.

“Sampai aksi kami ditutup, belum ada respons langsung ataupun audiensi dari pihak terkait. Kami sudah datang membawa tuntutan, membawa kajian, dan menyampaikan aspirasi secara terbuka, tetapi sampai massa membubarkan diri tidak ada pihak yang datang untuk menerima dan mendengarkan tuntutan kami.” Lanjutnya.

Erlan menilai sikap tersebut menunjukkan masih adanya persoalan dalam merespons suara mahasiswa dan masyarakat pada penyusunan kebijakan publik. Oleh karena itu, ia menyatakan aliansi mahasiswa akan melakukan konsolidasi lanjutan guna memperluas gerakan.

“Kami tidak akan berhenti pada aksi hari ini. Kami akan melakukan konsolidasi kembali, memperluas gerakan, dan mempersiapkan aksi lanjutan dengan massa yang lebih besar.” Sambungnya.

Massa aksi akhirnya membubarkan diri secara tertib menjelang malam hari setelah membacakan rilis pers resmi yang memuat seluruh poin tuntutan.

(Red/LPMWisma)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *