Bung, Aku Menghampirimu

Untuk Tan Malaka, yang Berbaring di Selopanggung.
​Duduk di sini, di lereng Wilis yang gigil, rasanya berbeda.
Kabut Selopanggung turun pelan-pelan, seperti hendak menyelimuti rahasia yang puluhan tahun dikunci tanah ini.
Malas jadi malu. Sombong jadi ciut.
Sebab tanah merah Kediri ini sama sekali tidak peduli siapa kita.
​Ia hanya berbisik lewat desau pinus:
“Kalian semua akan kembali ke rahimku. Jadi, apa yang sudah kau perbuat sebelum itu?”

​Sumir memang bung..
Seumur hidupmu, kau berjalan dalam gelap. Menembus pekat malam dengan seratus nama samaran—Ilyas Husein, Alimin, Estahislau Rivera.
Kau merayap di sela-sela imperium, menolak dipuja, menolak tunduk pada kenyamanan.
Kau paling benci “logika mistika”.
Kau mendengus pada mereka yang menyembah berhala, batu, atau mantra.
Kau bilang: jangan meminta pada kuburan, mintalah pada otak dan dialektika!
​Tapi lihatlah hari ini:
Namamu dielu elukan anak muda. Kau resmi dikalungi gelar Pahlawan Nasional sebuah stempel resmi dari Republik yang dulu melahirkanmu, tapi mengusirmu hingga ke ujung belati.

Bahkan jasadmu bung… Jasad yang dulu ditimbun terburu-buru tanpa nisan, setelah peluru dari senapan saudaramu sendiri menembus dada di keheningan Februari 1949, kini diperebutkan bahkan dipindahkan.
Sejarah membongkar tanahmu. Garis keturunanmu dari Pandam Gadang menjemputmu. Tanah Selopanggung ini kini digali, dibawa pulang dalam ritus, dibuatkan nisan, diramaikan peziarah.
​Sebuah kultus individu. Sesuatu yang dalam Madilog paling keras kau tentang.
​Tapi kami rasa, kau yang di dalam sana akan tersenyum kecut dan mengerti.
Karena kami yang datang hari ini tidak membawa kemenyan. Kami tidak datang untuk menyembah tulang-belulangmu atau mengemis keberkahanmu bung..


​Kami datang untuk berdiri dengan rasa malu.
​Kami tidak sedang berziarah, bung.
Kami sedang lapor.
Bahwa “Aksi Massa” yang kau impikan masih sering berakhir jadi riuh yang lekas reda.
Gagasan “Republik Indonesia” yang kau tulis di Manila jauh sebelum yang lain berpikir tentangnya, hari ini masih digrogoti rayap-rayap korup.
Bahwa “Madilog” masih kami baca tak lagi perlu sembunyi-sembunyi di kedai kopi, namun “Aslia” masih jadi perdebatan yang belum selesai di ruang-ruang kelas yang sekatnya makin sempit.
​Kami melapor, bahwa Kami masih mencoba bergetar saat melihat ketidakadilan, walau langkah kami sering kali gemetar dan gagal.


​Di Selopanggung ini, di tempat semua gelar luruh menjadi hancur,
di tempat peluru, darah pahlawan, dan tanah basah melebur jadi satu,
kami belajar tentang materialisme yang sejati:
​Bahwa yang abadi bukan gundukan tanah ini.
Bahwa yang sakti bukan tulang yang telah jadi kapur.
Yang abadi adalah api yang kau sulut di kepala kami.
​Terima kasih sudah dieksekusi sepi,
supaya idemu bisa meledak lebih keras dari dalam kubur.
Supaya suaramu, seperti yang kau tulis dengan jemari bergetar di penjara,
benar-benar terbukti: Lebih keras dari dalam kubur!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *