RIP Demokrasi: DPR Dapat Tunjangan, Rakyat Dapat Luka, Indonesia ke Arah Mana?

Serang, Wismanews.com – Situasi politik Indonesia saat ini memanas setelah gelombang protes besar-besaran tentang tunjangan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terjadi di depan Gedung DPR/MPR RI. Ribuan mahasiswa, buruh, dan aktivis turun ke jalan untuk menolak kenaikan tunjangan anggota DPR yang mereka nilai berlebihan. Mereka juga mengkritik peran militer yang semakin meningkat dalam urusan sipil.

Aksi yang berlangsung sejak Senin (25/8) ini berujung ricuh. Massa sempat membakar ban dan memblokir jalan, sementara aparat kepolisian menembakkan gas air mata untuk membubarkan kerumunan.

Bentrokan tak terhindarkan, bahkan menelan korban jiwa seorang ibu pekerja bank terkena gas air mata yang menyebabkan rusaknya kendaraan, tas dan laptop, hingga panasnya punggung yang terkena gas air mata. 

Ratusan cuitan dan unggahan Snapgram beredar, menampilkan foto-foto kericuhan dengan caption seperti “RIP Indonesia’s Democracy”, “Iblis anggaran”, hingga “Polisi untuk pembunuh masyarakat”. Unggahan tersebut menjadi trending, mencerminkan gelombang kekecewaan generasi muda terhadap kondisi politik saat ini.

Kemarahan publik semakin membesar, bukan hanya terhadap DPR, melainkan juga kepada aparat kepolisian yang dianggap melakukan pembunuhan terhadap masyarakat. Tewasnya pengemudi ojek online (ojol) itu menjadi simbol ketidakadilan dan bukti bahwa aparat tidak lagi melindungi rakyat.

Di sisi lain, DPR dan pemerintah hingga kini belum memberikan tanggapan resmi yang menenangkan publik. Hanya ada imbauan agar massa tetap tertib dan aparat menahan diri dalam melakukan pengamanan.

Kondisi ini menjadikan pertanyaan besar, apakah Indonesia masih berada di jalur demokrasi, atau justru sedang berjalan mundur ke arah otoritarianisme. 

(Div.Berita/LPMWisma)

Editor: Div. Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *