Idul Fitri 1446 H: Menjaga Tradisi, Merayakan Kebersamaan dan Saling Memaafkan

Serang, Wismanews.com – Umat Islam merayakan Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri sebagai momen istimewa setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan. Idul Fitri menjadi waktu untuk mempererat silaturahmi dan berkumpul bersama keluarga. Berbagai tradisi khas lebaran mewarnai perayaan Idul Fitri.

Idul Fitri menjadi hari kemenangan seluruh umat Muslim karena telah menyelesaikan salah satu ibadah yang berat, yakni puasa Ramadhan. Ini adalah kemenangan spiritual atas hawa nafsu dan godaan duniawi. Allah SWT dalam firmannya di QS Al-Baqarah ayat 183 menyampaikan bahwa tujuan melaksanakan puasa adalah untuk mendapatkan gelar bertakwa.

Masyarakat mengidentikkan Idul Fitri dengan tradisi silaturahmi, yaitu mengunjungi keluarga, sahabat, dan tetangga untuk saling memaafkan. Di Indonesia, tradisi halal bihalal menjadi momen penting untuk mempererat hubungan dan menghapus segala kesalahan di masa lalu. Biasanya, kunjungan ini dilakukan pada hari pertama dan kedua Lebaran, diiringi dengan doa dan kebersamaan yang hangat.

Tak lengkap rasanya Hari Raya tanpa hidangan khas seperti ketupat, opor ayam, rendang, dan sambal goreng ati. Ketupat sendiri bukan sekadar makanan, tetapi memiliki filosofi mendalam. Dalam budaya Jawa, ketupat atau kupat berasal dari kata “ngaku lepat”, yang berarti mengakui kesalahan, serta “laku papat”, yang berarti empat tindakan utama dalam Islam: puasa, salat, zakat, dan haji.

Ketupat melambangkan penyucian diri setelah sebulan berpuasa. Selain hidangan utama, kue-kue kering seperti nastar, kastengel, dan putri salju juga menjadi suguhan wajib di rumah-rumah, menyambut tamu yang datang bersilaturahmi.

Saat Idul Fitri tiba, anak-anak paling menantikan Tunjangan Hari Raya (THR) yang biasanya orang dewasa berikan berupa uang atau hadiah sebagai simbol berbagi rezeki dan kebahagiaan.

Tradisi ini di Indonesia bermula pada tahun 1950-an, ketika Perdana Menteri Soekiman Wirjosandjojo memberikan tunjangan kepada Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebagai bentuk apresiasi menjelang Idul Fitri. Kini, pemberian THR menjadi bagian dari budaya yang semakin menguatkan nilai kebersamaan.

Setiap daerah memiliki tradisi tersendiri di Hari Idul Fitri. Di tengah perbedaan budaya dan tradisi, inti dari perayaan ini tetap sama yaitu mempererat hubungan dengan sesama dan merayakan kemenangan setelah menjalani bulan penuh ibadah. Semoga Idul Fitri kali ini membawa berkah dan kebahagiaan bagi semua.

(Div. Berita/LPMWisma)

Reporter: Div. Berita

Editor: Div. Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *