Para warga yang menikmati ngabuburit di Masjid Agung Ats-Tsauroh, Serang Banten, pada Kamis (13/03/2025). LPM WISMA/Ahmad Farid.

Tradisi Unik Bulan Ramadhan di Indonesia: Asal Usul Ngabuburit

Serang, Wismanews.com – Bulan Ramadhan adalah waktu yang penuh berkah bagi umat Muslim di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Salah satu tradisi yang paling unik selama bulan suci adalah ngabuburit.

Warga Indonesia tentu sudah tidak asing lagi mendengar istilah ngabuburit, karena sudah menjadi bagian yang tidak bisa terpisahkan di bulan Ramadhan. Tradisi ini sudah menjadi budaya di masyarakat Indonesia setiap kali bulan Ramadhan tiba, sehingga masyarakat selalu menantikan momen ini dengan penuh semangat.

Bagi sebagian masyarakat, ngabuburit menjadi momen untuk berburu takjil favorit. Berbagai macam pilihan takjil, seperti kolak, telur gulung, es cendol, hingga hidangan gurih seperti sosis solo dan martabak, memenuhi pasar-pasar tradisional dan area sekitar. Keramaian di sentra-sentra kuliner menjadi pemandangan khas setiap Ramadhan, dan selalu dirindukan setiap tahunnya.

Istilah ngabuburit berasal dari bahasa Sunda, yang merupakan salah satu bahasa daerah di Indonesia. Dalam konteks bahasa, “ngabu” berarti ‘menunggu’, dan “burit” berarti “sore”. Jadi, secara harfiah, ngabuburit berarti menunggu waktu sore menjelang berbuka puasa. Meskipun berasal dari budaya Sunda, kegiatan ini telah menyebar ke berbagai daerah di Indonesia.

Kegiatan ngabuburit, biasanya dimulai sore hari, sekitar pukul16.00 atau 4 sore, hingga waktu berbuka puasa. Namun, di beberapa daerah, waktu ngabuburit bisa berbeda-beda, tergantung pada jadwal berbuka puasa setempat.

Lebih dari sekadar tradisi menghabiskan waktu atau berburu makanan, ngabuburit juga menjadi ajang mempererat tali silaturahmi. Sering kali kita jumpai kelompok teman atau rekan kerja sedang berkumpul, berbagi cerita dan tawa sembari menanti saat berbuka tiba. Suasana kebersamaan inilah yang menjadikan ngabuburit terasa begitu istimewa.

Dengan demikian, ngabuburit bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga bagian dari perjalanan spiritual yang membawa makna mendalam bagi umat Muslim. Sebuah kegiatan yang mengajarkan kita tentang pentingnya kebersamaan, kesabaran, dan rasa syukur.

(Dean/LPMWisma)

Reporter: Dean

Editor: Putra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *