Dari Pinggir, Aku Menulis

Aku bukan siapa-siapa,
bukan wajah di layar kaca.
Tapi aku mendengar jelas suara
yang ditenggelamkan kata-kata berkuasa.

Bukan headline yang kukejar,
melainkan kisah yang tak dianggap benar.
Di balik bisingnya warta istana,
ada sunyi dari pojok kota yang terlupa.

Aku berjalan tanpa lampu sorot,
menyusuri lorong yang ditolak sorot.
Kusapa ibu yang kehilangan tanah,
kusimak bocah yang direnggut sekolah.

Mereka tak punya mikrofon,
tapi isi dadanya penuh ledakan.
Mereka tak tahu caranya tampil,
tapi hidup mereka lebih nyata dari panggung gemerlap profil.

Kupungut setiap lirih mereka jadi paragraf,
kugoreskan luka jadi aksara yang tajam.
Karena berita bukan milik yang kuat,
tapi milik siapa saja yang punya hak.

Pena ini tak kubiarkan jinak,
ia harus menggigit—di saat dunia menutup mata.
Ia harus melawan,
di saat kenyataan ditukar hiburan.

Aku jurnalis dari sisi gelap,
mencari cahaya bukan untuk diri,
tapi untuk mereka
yang bicara pun tak diberi izin berdiri.

Written By: Intan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *