Setelah KPUM Terbentuk, DPM-U Canangkan Kontestasi Serentak Melalui SMS

SERANG, LPMWISMA.com – Menjelang Pemilihan Umum Mahasiswa (PUM) pada Januari 2019 mendatang, Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas Serang Raya (DPM-U) mencanangkan sistem pemungutan suara melalui voting SMS usai penetapan panitia Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) pada akhir November kelak.

Ria Meytalia selaku Ketua DPM-U mengatakan, bahwa pada PUM mendatang tidak lagi menggunakan sistem Tempat Pemungutan Suara (TPS). Setiap mahasiswa yang berniat menggunakan hak pilihnya, bisa melalui SMS dengan format yang nanti ditetapkan. “Kemungkinan ga pakai TPS, cuma SMS voting kaya (seperti -red) ajang pencarian bakat gitu,” ujarnya kepada kru lpmwisma.com (21/11).

Menurutnya, cara tersebut dapat menghemat dana karena mahasiswa hanya mengirimkan SMS dengan format yang ditetapkan oleh KPUM dan tidak lagi memerlukan biaya cetak kertas suara. “Bakal menghemat kertas ya, untuk kertas suara seperti itu. Kan pake sms, dan itu juga gratis,” tutur Ria, sapaan akrab ketua DPM-U.

Ria menjelaskan, pihaknya akan mensosialisasikan inovasi barunya terkait sistem pemilihan SMS voting kepada Keluarga Besar Mahasiswa Unsera (KBM-U) setelah KPUM terbentuk. “Bakalan kita sosialisasikan ke temen-temen ormawa yang lain.” Tegasnya.

Menanggapi hal tersebut, ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Universitas Serang Raya (MPM-U), Rizky Badrussalam mengatakan, pemungutan suara dengan sistem seperti itu belum relevan jika  diterapkan pada waktu dekat ini. Menurutnya, jika sistem pemungutan suara melalui SMS, masih rentan pembobolan pada keamanan portal software tersebut.

“Masih belum cukup siap temen-temen Unsera untuk melaksanakan itu. Apalagi nanti kita pake aplikasi atau media seperti itu, ada yang namanya hacker,” ucapnya saat diwawancarai, Rabu (21/11).

Disisi lain, Rizky Maulana, mahasiswa Ilmu Komunikasi semester lima, turut menanggapi hal yang sama mengenai menerapan sistem SMS voting pada PUM mendatang. Ia mengatakan, pemilihan dengan sistem baru tersebut dianggap sebagai tahap uji coba, dan manipulasi data pada sistem SMS voting lebih rentan. Ditambah lagi, pemilihan langsung dengan datang ke TPS saja selalu ada kekhawatiran terhadap pencurian data suara kandidat.

“Sebagai mahasiswa non-organisasi, saya tidak setuju dengan cara pemilihan seperti itu. Bagaimanapun juga, bentuk fisik seperti surat suara terkadang masih menjadi kekhawatiran, seperti manipulasi data.” Tutupnya. (LPM Wisma/Setia Adi Wangsa)

Editor: Rizky Septyawidi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *