Serang, Wismanews.com – Ketegangan bersenjata antara Iran dan Israel yang melibatkan Amerika Serikat dilaporkan mulai terjadi pada 28 Februari 2026 dan memasuki hari kelima pada Rabu, 4 Maret 2026. Serangan udara dan balasan rudal masih berlangsung di sejumlah wilayah strategis, sementara jumlah korban tewas dan luka terus bertambah.Konflik dipicu oleh serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menargetkan pusat komando militer serta infrastruktur vital Iran.
Dalam perkembangan terbaru, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan keyakinannya bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas akibat serangan tersebut. Pernyataan itu memicu reaksi keras dari pihak Iran yang membantah klaim tersebut dan menyebutnya sebagai propaganda perang, dikutip dari Kompas.com.
Sebagai respons, Iran meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah target yang diklaim berkaitan dengan kepentingan militer Israel dan Amerika Serikat. Sejumlah fasilitas militer dan infrastruktur terdampak akibat rangkaian serangan tersebut. Hingga Rabu, korban jiwa di Iran dilaporkan mencapai lebih dari 787 orang akibat serangan udara dan aksi militer yang berlangsung beberapa hari terakhir, angka yang masih dapat berubah seiring pendataan otoritas setempat, dikutip dari TribunNews.com.
Eskalasi ini tidak hanya berdampak pada aspek militer, tetapi juga pada stabilitas energi global. Dalam laporan Dampak Konflik Iran, Amerika dan Israel Terhadap Stabilitas Energi, disebutkan bahwa ketegangan di kawasan Timur Tengah berpotensi mengganggu distribusi minyak dunia dan mendorong kenaikan harga minyak mentah di pasar internasional. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap inflasi dan tekanan ekonomi di berbagai negara.
Pemerintah Iran menuding Israel sebagai pihak yang memulai agresi militer, sementara Israel menegaskan serangan dilakukan untuk mempertahankan keamanan nasionalnya.
Dampak konflik juga dirasakan di pasar keuangan domestik. Artikel Konflik Iran–Israel-AS Memanas, Bagaimana Dampaknya pada Rupiah? menjelaskan bahwa ketidakpastian geopolitik dapat memicu gejolak pasar, di mana nilai tukar rupiah berpotensi tertekan jika investor global menarik dananya dari pasar negara berkembang untuk mencari aset yang lebih aman, dikutip dari Metrotvnews.com.
Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla, menilai dampak konflik terhadap Indonesia sangat bergantung pada durasi dan eskalasi perang. Ia menyebutkan bahwa jika konflik berkepanjangan, efeknya akan terasa pada perdagangan, harga energi, dan stabilitas ekonomi nasional, dikutip dari Tempo.co.
Perkembangan situasi hingga kini masih terus dipantau masyarakat internasional. Sejumlah negara mengimbau warganya untuk meningkatkan kewaspadaan, sementara upaya diplomasi dinilai semakin sulit dilakukan di tengah pernyataan keras dari para pemimpin yang terlibat.
(Red/LPMWisma)
Editor: Red
