Serang, Wismanews.com – Tidak ada sorak-sorai yang riuh, tidak pula gegap gempita layaknya pesta. Namun suasana Waisak selalu menghadirkan ketenangan yang hangat dan menyentuh. Bagi umat Buddha, Hari Raya Waisak bukan sekadar serangkaian ritual keagamaan, melainkan momen untuk menenangkan batin, merenungi makna hidup, dan menyebarkan cinta kasih dalam kesederhanaan.
Konferensi Umum Pertama World Fellowship of Buddhists (WFB) di Colombo, Sri Lanka pada tahun 1950 menjadi tonggak sejarah penetapan peringatan Waisak secara internasional, dengan partisipasi 27 negara. Waisak, yang juga disebut Trisuci Waisak, merupakan perayaan penting bagi umat Buddha untuk memperingati tiga momen krusial dalam kehidupan Siddhartha Gautama: kelahirannya, pencapaian Bodhi (pencerahan sempurna), dan Parinibbana (wafatnya). Mereka meyakini ketiganya terjadi pada hari purnama di bulan Waisak, sekitar bulan Mei dalam kalender Masehi.
Siddhartha Gautama, yang kemudian dikenal sebagai Buddha Gautama, lahir sekitar tahun 563 SM di wilayah Lumbini. Sejak muda, ia menyadari bahwa kemewahan dan kekayaan tidak menjamin kebahagiaan.
Dalam pencariannya, ia meninggalkan kehidupan istana dan menjalani kehidupan spiritual sebagai petapa. Setelah enam tahun bermeditasi dan berlatih asketisme, ia mencapai pencerahan di bawah pohon Bodhi di Bodh Gaya, India. Sejak saat itu, ia mengajarkan Dharma, jalan menuju kebebasan dari penderitaan dan siklus kelahiran kembali.
Hari Waisak menjadi waktu bagi umat Buddha untuk memperdalam spiritualitas. Selain mengenang kelahiran, pencerahan, dan wafatnya Sang Buddha, umat juga menghormati ajaran Dharma dan komunitas Sangha.
Rangkaian kegiatan Waisak umumnya mencakup meditasi, pembacaan sutra, kebaktian di vihara, hingga pelepasan lampion sebagai simbol harapan dan pencerahan. Di beberapa tempat, seperti Candi Borobudur, perayaan Waisak juga menjadi momen budaya yang menarik perhatian masyarakat luas.
Waisak mengajarkan bahwa kedamaian sejati bersemayam dalam keheningan. Bukan hanya tentang tradisi, melainkan tentang jeda yang menenangkan di tengah kehidupan yang serba cepat. Sebuah peringatan bahwa kebaikan, sekecil apa pun tetap memiliki tempat di dunia.
(Div. Berita/LPMWisma)
Editor: Div. News – Berita
