Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Serukan Aksi “Ciceri Memanggil” Menyambut Peralihan Kekuasaan di Banten

Serang, LPMWisma.com – 16 Oktober 2024 Aliansi Gerakan Masyarakat Sipil yang terdiri dari mahasiswa, buruh, dan petani menyerukan aksi “Ciceri Memanggil” kepada seluruh pemuda dan mahasiswa se-Banten. Aksi ini dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 16 Oktober 2024, dengan tujuan menuntut perubahan kebijakan yang dianggap merugikan rakyat selama satu dekade pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Dalam konferensi pers yang digelar di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, aliansi tersebut menyatakan bahwa kebijakan-kebijakan pemerintah saat ini, yang berfokus pada investasi dan utang luar negeri, hanya menguntungkan pemilik modal dan semakin memperburuk kondisi ekonomi rakyat.

“Meskipun akan ada peralihan kekuasaan ke Prabowo-Gibran, kami meyakini bahwa sifat dasar pemerintah tetap sama, yaitu menjalankan sistem ekonomi yang eksploitatif dan diskriminatif, yang terus memiskinkan rakyat Indonesia,” ujar perwakilan mahasiswa dalam konferensi pers tersebut.

Mereka juga menyoroti berbagai kebijakan kontroversial seperti Undang-Undang Cipta Kerja, Undang-Undang Minerba, dan Undang-Undang Ibu Kota Negara (IKN), yang dianggap semakin merugikan pekerja melalui PHK massal, kerja outsourcing, kontrak kerja, dan sistem magang yang tidak adil.

Selain itu, aliansi juga menyoroti perampasan lahan melalui proyek-proyek strategis nasional seperti Proyek PIK 2, Bank Tanah, dan Food Estate, yang disebut sebagai ancaman nyata bagi ruang hidup rakyat. Data yang mereka sampaikan menunjukkan bahwa selama era Jokowi, tercatat 2.939 konflik agraria, sebagian besar melibatkan perkebunan swasta dan proyek infrastruktur yang didukung oleh negara.

Aliansi juga menyoroti kekhawatiran terkait pemerintahan Prabowo-Gibran, yang dikhawatirkan akan memperburuk masalah komersialisasi pendidikan. Kurikulum yang dinilai tidak ilmiah dan tingginya angka putus sekolah menjadi isu utama, di mana akses terhadap pendidikan berkualitas semakin sulit dijangkau oleh pemuda, khususnya di pedesaan.

Terkait masalah pendidikan, mereka mengkritik kebijakan pinjaman pendidikan (student loan) yang dianggap hanya akan menjerumuskan kaum muda dalam utang berkepanjangan, mengingat program serupa telah gagal di negara lain.

Dalam tuntutannya, aliansi ini menyampaikan 12 poin utama, di antaranya:

  1. Mencabut Undang-Undang Cipta Kerja dan peraturan turunannya.
  2. Menolak sistem kerja fleksibel, outsourcing, kontrak, dan magang yang merugikan pekerja.
  3. Melawan PHK massal.
  4. Menghentikan liberalisasi pertanahan melalui bank tanah dan mafia tanah.
  5. Menghentikan proyek strategis nasional seperti IKN, Food Estate, dan Bank Tanah.
  6. Mengakhiri kriminalisasi dan tindakan represif terhadap gerakan rakyat.
  7. Mengusut tuntas tragedi Kanjuruhan dan menghukum pelanggar HAM.
  8. Menghentikan liberalisasi dan komersialisasi pendidikan.
  9. Mewujudkan reforma agraria sejati dan nasionalisasi industri untuk rakyat.
  10. Membangun kekuatan politik persatuan rakyat.
  11. Menangkap aktor intelektual mega korupsi Situ Ranca Gede Banten.
  12. Menekan angka stunting dan gizi buruk di Banten.

Aliansi ini mengajak seluruh pemuda dan mahasiswa Banten untuk bergabung dalam aksi “Ciceri Memanggil” sebagai bentuk solidaritas dan perjuangan dalam menghadapi kebijakan-kebijakan yang dianggap merugikan rakyat.

(Red/LPMWisma)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *